Cari Blog Ini
Rabu, 15 Mei 2013
amri rifa'iyah
Tanbihun.com- Masih melanjutkan Catatan Kecil Saat Ziarah Ke Makam KH.Ahmad Syadzirin Amin, Obrolan kami dengan mas Asep semakin hangat, topiknya tentang persiapan Muktamar Rifaiyah 2013 di Pekalongan yang sudah berhasil membuat kepengurusan, juga tentang Angkatan Muda Rifaiyah (AMRI) yang baru saja menyelenggarakan perhelatan PKD. Dalam rangka mendukung & mensukseskan muktamar Rifaiyah AMRI mulai melakukan konsolidasi, seperti pembentukan Satgas dan lain-lain.
Kemarin ada tamu dari Indramayu yang mengusulkan untuk menambah aneka macam kegiatan AMRI, yaitu meneruskan warisan Pencak Silat dari para sesepuh, utamanya dari mendiang R.H. Misbahul Munir yang memiliki jurus khas dengan nama “pukul siji tapak telu” artinya pukul siji yaitu makrifat tapak telu yaitu syari’at, thoreqot, dan hakikat. Para murid beliau masih ada yang menguasai jurus tersebut dan siap melatih para pemuda khususnya AMRI jika dibutuhkan. Mereka ini merupakan murid langsung dari Raden Misbah yang bermukim di daerah asal Raden Misbah yakni di Kabupaten Indramayu.
Namun seperti halnya ide-ide lainnya selalu terbentur pada “keberanian” kita untuk memulai. Kita lebih senang meneruskan yang sudah ada, mental kita “ciut” ketika dihadapkan pada langkah awal untuk memulai sesuatu yang belum pernah ada. Sungguh ironi, disatu sisi dari rahim pemikiran pemuda lahir beratus-ratus ide cemerlang, tapi disisi lain dari rahim yang sama lahir pula rasa takut, minder, yang kadang nampak sebagai sifat “pengecut”.
Kalau penulis amati karakter sebagian pemuda adalah; mau menunaikan ide dengan tahapan: minta restu dulu kepada para sesepuh, dapat ijin dapat dukungan, kalau perlu para sesepuh mengumumkan dukungannya baik tertulis maupun lisan. Padahal ada hal-hal yang terkadang kita sulit menjelaskan kepada para sesepuh, di satu sisi kita perlu bukti dilapangan untuk melengkapi data saat berdialog dengan para sesepuh, tapi disisi lain kalau menunggu restu dulu dari mana klita punya bukti kalau program kita itu banyak manfaatnya daripada mudharotnya?
Kita ambil satu contoh, pendigitalan kitab-kitab rifaiayah, penulis pernah sowan ke beberapa kyai sepuh, hampir 99% tidak ada yang mendukung, tentu dengan berbagai macam alasan, tapi karena penulis sendiri belum bisa membuktikan manfaatnya, penulis hanya diam, tapi tidak lantas berhenti, penulis coba tuangkan idenya, sekarang bisa kita lihat hasilnya disini.
Belajar Dari Keberanian Para Pendahulu Kita
Tidak diragukan lagi guru besar kita, Syaikh Haji Ahmad Rifa’i Rahimahullohu adalah sosok ulama gagah berani dalam menunaikan gagasan-gagasannya, seperti ijtihad beliau tentang rukun Islam satu, sedangkan ulama lain lima. Beliau lebih sering memakai istilah “alim ‘adil” sebagai kata lain dari ‘alim muttaqiin”, Kitab-kitab beliau adalah bukti yang tak terelakkan, beliau berani membuat terobosan baru dengan mentarjamah kitab-kitab berbahasa arab dengan gaya penulisan nadhoman bahasa jawa memakai huruf arab pegon.
Saat penulis masih dipesantren pernah mendengar kabar, KH. Zaenal Abidin Pejambon Paesan Utara Kedungwuni Pekalongan terkena baliat dari Alloh, matanya sakit akibat kuwalat karena keberanian beliau membuat catatatan kaki daqlam kitab-kitab Rifaiyah, seperti dalam kitab Abiyanal Hawaij. Beliau tidak menanggapi segala rumor dan isu yang mencoba menghentikan langkah beliau dalam menuangkan gagasan beliau. Sekarang coba kita lihat, langkah beliau ternyata banyak sekali manfaatnya, mungkin kalau mental beliau tidak kuat, akan terhenti ditengah jalan.
Satu lagi Ulama yang sangat produktif dalam menuangkan ide-idenya, beliau baru saja wafat meninggalkan kita semua, KH.Ahmad Syadzirin Amin, berbagai macam nada miring sering dialamatkan kepada beliau, seperti soal ilustrasi foto KH. AHamd Rifa’i yang sebenarnya hanya untuk melengkapi administrasi bagi pengangkatan Gelar Pahlawan. Dan masih banyak gagasan-gagasan yang dengan berani beliau tuangkan kedalam ranah alam nyata.
Begitu juga yang menimpa group rebana Badur Bopas saat awal-awal menuju dapur rekaman, suara-suara sumbang yang mencoba menghentikan langkah santer bergema, namun itu semua tidak menyurutkan keinginan membumikan ide-idenya. Hal yang sama juga pernah dirasakan Tanbihun.com, Alhamdulillah kini kita bisa melihat sisi positifnya.
Kalau sudah demikian, masihkah kita terlelap dalam buaian mimpi ide-ide yang masih bercokol dikepala? Masihkah kita menunggu diakui dulu, direstui dulu, di dukung dulu baru bertindak?
Syaikh Ahmad Rifa’i berkata :
” Bersihkan hatimu, luruskan niatmu, jalanilah sebab-sebab yang akan mengantarkanmu kepada keberhasilan, jangan hanya berangan-angan, sebab cita-cita takkan berhasil hanya dengan dibayangkan saja”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
ccc
-

Mother And Rangga
The road to the lake Singkarak west sumatera all back home -

Mother And Rangga
Rangga photo on the bridge leighton III -
Rangga photo
Rangga in the Clock Tower Bukitinggi West Sumatera -
Rangga Photo
Rangga posing overpass Kelok sembilan west sumatera -
Rangga , Father and Mother
Rangga with beloved family
Label: blogger
Tidak ada komentar:
Posting Komentar